
Rawnews.co.id – Minggu pagi, 23 Agustus 2025, Balai Desa Gunung Sugih, Lampung Tengah, tampak lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi plastik berjejer rapi, ibu-ibu PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT) hadir.
Sementara tokoh masyarakat, pemuda, dan aparatur desa duduk berdampingan. Mereka berkumpul bukan untuk acara seremonial biasa, melainkan untuk mendengar dan berdiskusi tentang sesuatu yang menjadi ruh bangsa: Pancasila dan wawasan kebangsaan.
Adalah Abdullah Surajaya, Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi Amanat Nasional, yang memprakarsai kegiatan ini. Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan tersebut merupakan agenda keduanya di bulan Agustus.
Abdullah—atau akrab disapa Bang Sura—datang bukan sekadar membawa nama lembaga, melainkan juga sebuah pesan sederhana: bahwa menjaga Pancasila adalah tanggung jawab semua warga negara, terlebih wakil rakyat.
“Kegiatan ini rutin kami lakukan. Pancasila adalah ideologi negara yang harus terus kita jaga, kita hidupkan, dan kita wariskan kepada generasi mendatang,” ucapnya saat menyampaikan sambutan, disambut tepuk tangan hangat para peserta.

Untuk memperkuat pemahaman, Bang Sura menghadirkan Herwanto, SH., MH. sebagai narasumber. Dengan gaya komunikatif, Herwanto memaparkan bagaimana nilai-nilai Pancasila tidak hanya tertulis dalam lembar konstitusi, tetapi hidup dalam keseharian masyarakat: gotong royong di desa, saling menghormati antaragama, hingga semangat persatuan di tengah keberagaman.
Atmosfer balai desa siang itu menjadi cair. Para tokoh agama mengangguk setuju, pemuda mencatat beberapa poin penting, sementara ibu-ibu KWT menanggapi dengan contoh kehidupan sehari-hari mereka di desa.
Pancasila, yang sering dianggap konsep besar, seakan hadir nyata di tengah mereka.Abdullah Surajaya sendiri bukan sosok asing bagi masyarakat.
Selain menjabat Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Lampung dan duduk di Komisi V yang membidangi kesejahteraan rakyat, ia dikenal kerap turun ke lapangan.
Baginya, menyapa masyarakat adalah cara menjaga kepercayaan.“Pancasila bukan hanya milik buku pelajaran atau pidato pejabat. Pancasila milik rakyat, milik kita semua,” katanya menutup kegiatan.
Sementara di dalam, para peserta pulang dengan pemahaman baru: bahwa menjaga ideologi bangsa tidak harus lewat hal besar, melainkan bisa dimulai dari tindakan kecil yang dilandasi semangat Pancasila.(raw)
