
Rawnews.co.id – Sabtu sore itu, udara di Dusun Tanjung Rahayu, Desa Tanjung Agung, Kecamatan Way Lima, terasa sejuk selepas hujan tipis yang membasahi tanah desa. Di halaman Masjid Jami An-Nur, puluhan warga sudah berkumpul.
Ibu-ibu pengajian mengenakan kerudung berwarna-warni, sementara para tokoh masyarakat, agama, dan pemuda duduk berdampingan, menanti dimulainya sebuah acara yang jarang digelar di dusun kecil ini:
Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan.Kegiatan yang digagas Anggota DPRD Provinsi Lampung, Mustika Bahrum, ini menjadi yang pertama di bulan September 2025.
Tidak sekadar agenda formal, suasana sosialisasi terasa lebih mirip ajang silaturahmi, di mana masyarakat saling menyapa dan berbaur akrab.
Kepala Desa Tanjung Agung, Sobri Hakiki, dalam sambutannya menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila sebenarnya telah hidup di tengah masyarakat, bahkan tanpa mereka sadari.

“Kita sudah saling menolong, saling menjaga, dan hidup rukun dengan tetangga. Itulah wujud Pancasila yang sudah kita jalani sehari-hari,” ucapnya, disambut anggukan para warga.
Sementara itu, dua narasumber yang dihadirkan, RI Sodar A.H dan Budi Kurniawan S.T, mengupas pentingnya menjaga ideologi bangsa di tengah tantangan zaman.
Pesan mereka sederhana: Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman hidup yang harus terus diamalkan.Puncak acara terjadi ketika Mustika Bahrum menyampaikan sambutannya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya soal sosialisasi, melainkan juga bentuk kepedulian nyata terhadap masyarakat. Dengan penuh kesungguhan, ia menyerahkan bantuan dana untuk pembangunan Masjid Jami An-Nur.
“Kita serahkan untuk masjid kita. Semoga ikhlas dari kita semua ini bisa bermanfaat dan menambah semangat kebersamaan,” ujar Mustika, yang sontak membuat wajah warga berseri.
Suasana hangat pun kian terasa. Bukan hanya karena bantuan yang diberikan, tetapi juga karena rasa kebersamaan yang tumbuh di antara warga.
Sosialisasi ideologi Pancasila di desa itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda politik; ia menjelma menjadi momen kebanggaan, di mana masyarakat merasakan langsung arti gotong royong, kepedulian, dan persaudaraan.
Bagi warga Tanjung Agung, sore itu menjadi pengingat bahwa Pancasila bukan hanya milik negara, melainkan juga denyut nadi kehidupan desa mereka.(raw).
