
Rawnews.co.id – Kondisi jalan poros yang menghubungkan Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang dengan wilayah Kabupaten Lampung Tengah kian memprihatinkan. Kerusakan parah yang telah berlangsung lebih dari satu dekade membuat akses transportasi masyarakat terganggu, bahkan membahayakan pengguna jalan.
Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi PDI Perjuangan, Ketut Rameo, mengungkapkan bahwa jalan sepanjang 9,6 kilometer tersebut membutuhkan waktu tempuh hingga 1,5 jam jika dilalui menggunakan kendaraan roda empat, khususnya saat musim hujan.
“Kalau kita naik kendaraan, misalnya mobil, dari Kampung Pedowoasri menuju Pasir Ranjaya, itu bisa sampai satu setengah jam. Apalagi kalau hujan, kondisinya sangat sulit dilalui,” ujar Ketut Rameo.
Menurutnya, saat hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur tebal yang menyulitkan kendaraan untuk melintas. Sementara saat kondisi kering, permukaan jalan dipenuhi batu-batu besar yang berpotensi merusak kendaraan dan membahayakan pengendara.

“Kalau tidak hati-hati, kendaraan bisa nyangkut. Ini sudah berlangsung lebih dari 10 tahun,” tambahnya.Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebenarnya telah beberapa kali melakukan perbaikan. Namun, perbaikan yang dilakukan masih bersifat tambal sulam dan belum mampu mengatasi kerusakan secara menyeluruh.
“Dari total panjang 9,6 kilometer, baru sekitar 3 kilometer yang diperbaiki. Itu pun dilakukan secara bertahap saat masa kepemimpinan Bupati Winarti,” jelasnya.
Ketut menilai, keterbatasan anggaran daerah menjadi salah satu kendala utama belum optimalnya perbaikan infrastruktur tersebut. Oleh karena itu, ia mendorong agar status jalan tersebut dapat dialihkan menjadi kewenangan pemerintah provinsi atau bahkan pemerintah pusat.
“Harapan saya, jalan ini bisa diserahkan ke provinsi atau pusat, supaya penanganannya lebih maksimal. Karena kalau hanya mengandalkan APBD kabupaten, akan sulit untuk perbaikan total,” tegasnya.Jalan poros tersebut memiliki peran strategis karena menjadi penghubung antara dua kabupaten, yakni Kabupaten Tulang Bawang dan Kabupaten Lampung Tengah.
Selain itu, jalur tersebut juga berada di kawasan pertanian dengan hamparan sawah di sisi kiri dan kanan jalan, yang menjadi akses utama mobilitas hasil pertanian masyarakat.“Ini bukan hanya jalan biasa, tapi jalan penghubung antarwilayah yang sangat penting. Kiri kanan jalan itu sawah, jadi ini urat nadi ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Kondisi jalan yang rusak parah ini dikeluhkan warga setempat. Mereka berharap adanya perhatian serius dari pemerintah agar aktivitas sehari-hari, termasuk distribusi hasil pertanian dan akses layanan dasar, dapat berjalan lancar.
Hingga saat ini, masyarakat masih harus berjibaku dengan kondisi jalan yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan. Jika tidak segera ditangani secara menyeluruh, dikhawatirkan kerusakan akan semakin parah dan berdampak lebih luas terhadap perekonomian serta keselamatan warga.(raw).
