Tak Lagi Jawa Sentris, Ekonomi Desa Didorong Lewat MBG dan KDMP

Rawnews.co.id – Ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Selama ini, perputaran ekonomi nasional dinilai lebih banyak terpusat di Pulau Jawa, khususnya di wilayah ibu kota dan kota-kota besar.Presiden RI Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan juga menyoroti kondisi tersebut.

Ia menyebut sekitar 60 persen perputaran uang berada di DKI Jakarta, 30 persen di kota-kota besar tingkat provinsi, dan hanya sekitar 10 persen yang beredar di desa-desa.Hal tersebut berdampak pada tingginya arus urbanisasi, terutama di kalangan generasi muda yang memilih merantau ke kota untuk mencari peluang ekonomi yang lebih besar.

Mikdar Ilyas, saat diwawancarai awak media pada Kamis, 30 April 2026, menyampaikan bahwa pemerintah saat ini telah menghadirkan program strategis untuk menjawab ketimpangan tersebut, di antaranya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Merah Putih.

Menurutnya, kedua program tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong pemerataan ekonomi hingga ke tingkat desa dan kecamatan. Ia menjelaskan, melalui program MBG, setiap kecamatan akan memiliki dapur umum dengan anggaran yang cukup besar dan dikelola secara lokal.

“Jika satu dapur mengelola anggaran sekitar Rp1 miliar per bulan dan dalam satu kecamatan terdapat empat hingga lima dapur, maka perputaran uang bisa mencapai Rp4 hingga Rp5 miliar setiap bulan,” ujar Mikdar Ilyas.

Selain itu, keberadaan Koperasi Merah Putih diharapkan mampu menjadi pusat distribusi kebutuhan masyarakat desa, mulai dari kebutuhan dapur MBG hingga penyediaan sembilan bahan pokok dan kebutuhan lainnya.Ia menilai, apabila koperasi tersebut dikelola secara profesional, bukan tidak mungkin dapat berkembang seperti jaringan ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart, namun dengan keuntungan yang kembali kepada masyarakat desa sebagai anggota.

“Perputaran uang tidak lagi terpusat di kota besar, tetapi benar-benar beredar di desa. Mulai dari belanja bahan, gaji tenaga kerja, hingga distribusi kebutuhan masyarakat semuanya melibatkan warga lokal,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa dalam satu kecamatan, total perputaran dana dari program tersebut bisa mencapai puluhan miliar rupiah dalam satu tahun. Bahkan, jika koperasi mampu meraih keuntungan sekitar 10 persen, maka potensi laba yang dihasilkan bisa mencapai miliaran rupiah.

Dengan kondisi tersebut, ia optimistis program ini mampu menjadi solusi nyata dalam mengurangi kesenjangan ekonomi antara desa dan kota.“Ini peluang besar bagi desa. Tinggal bagaimana pengelolanya bisa menjalankan dengan baik dan memanfaatkan dukungan permodalan yang ada,” tambahnya.

Dengan adanya program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih, diharapkan ke depan pertumbuhan ekonomi nasional tidak lagi terpusat di kota-kota besar, melainkan merata hingga ke seluruh pelosok desa di Indonesia.(raw).

Related posts

Leave a Comment