
Rawnews.co.id – Anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi PKS, Heni Susilo menilai meningkatnya partisipasi generasi muda dalam investasi pasar modal menjadi sinyal positif bagi masa depan ekonomi Lampung. Menurutnya, bonus demografi yang dimiliki Provinsi Lampung harus diarahkan menjadi kekuatan ekonomi produktif melalui peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Heni Susilo di Bandar Lampung, Minggu (8/6/2026), menanggapi tren peningkatan jumlah investor muda di Lampung yang terus menunjukkan pertumbuhan signifikan.Berdasarkan data terkini, nilai transaksi pasar modal di Lampung hingga April 2026 mencapai Rp25,03 triliun dengan dominasi investor usia 18 hingga 25 tahun sebesar 38,4 persen dari total investor terdaftar.
“Ini merupakan kabar baik bagi masa depan ekonomi Lampung. Bonus demografi mulai menunjukkan arah yang produktif. Namun menjadi investor tidak cukup hanya memiliki keberanian menempatkan dana. Generasi muda harus dibekali pemahaman yang kuat, kemampuan analisis yang baik, serta sikap kritis terhadap berbagai tawaran investasi,” ujar Heni.
Menurutnya, meningkatnya minat investasi di kalangan anak muda merupakan peluang strategis untuk membangun kemandirian ekonomi keluarga, memperkuat budaya menabung dan investasi, serta mempersiapkan Generasi Emas Lampung 2045.Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap praktik investasi ilegal dan penawaran keuntungan tidak rasional yang kerap menyasar generasi muda.
“Jangan sampai antusiasme generasi muda dimanfaatkan oleh oknum yang menawarkan keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa dasar yang jelas. Investasi yang sehat harus didasarkan pada legalitas, pemahaman risiko, serta tujuan keuangan yang terukur,” tegasnya.
Heni menjelaskan, berdasarkan Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan sebesar 80,51 persen. Pada kelompok usia 18 hingga 25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 73,22 persen dengan indeks inklusi mencapai 89,96 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa generasi muda cukup aktif mengakses layanan keuangan, namun masih membutuhkan edukasi yang memadai terkait risiko investasi dan perlindungan konsumen.“Literasi harus berjalan beriringan dengan inklusi. Kita tidak boleh hanya bangga karena jumlah investor meningkat. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memahami risiko, mengenali legalitas produk keuangan, dan menyadari bahwa investasi bukan jalan pintas untuk menjadi kaya secara instan,” katanya.
Legislator PKS dari daerah pemilihan Tanggamus, Lampung Barat, dan Pesisir Barat itu juga menegaskan bahwa penguatan literasi dan perlindungan konsumen telah memiliki dasar hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 22 Tahun 2023 tentang Pelindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan.
Ia pun mendorong sinergi antara pemerintah daerah, OJK, Bursa Efek Indonesia, perguruan tinggi, pesantren, sekolah, komunitas pemuda, hingga pelaku industri keuangan dalam memperluas edukasi investasi hingga ke tingkat akar rumput.
Selain itu, Heni Susilo juga mengusulkan sejumlah langkah konkret, di antaranya memperluas edukasi pasar modal dan pengelolaan keuangan pribadi di sekolah dan kampus, memperkuat kampanye anti investasi bodong dan pinjaman online ilegal, menyediakan layanan konsultasi keuangan yang mudah diakses masyarakat, serta mengoptimalkan fungsi galeri investasi sebagai pusat edukasi dan pendampingan investasi legal.
“Generasi muda Lampung harus menjadi investor yang bijak, bukan sekadar mengikuti tren. Dengan literasi yang kuat, mereka dapat memanfaatkan peluang investasi secara produktif, terhindar dari berbagai bentuk penipuan keuangan, dan menjadi bagian penting dari terwujudnya Generasi Emas Lampung 2045,” pungkasnya.(raw).
